Selasa, 13 Desember 2011

SUARA DARI RAHIM

"by. Stanley Mahardhika"


Mama, hatiku pedih. Dalam usiaku empat bulan dalam rahimmu, aku selalu gelisah. Rahimmu begitu panas dan selalu bergolak. Terkadang tubuhku merasa tertekan dengan desahan nafas mama yang tak berirama. Aku sesak dan sulit bernafas ma. Aku tahu mama labil mengandung diriku. Gejolak emosi dan keinginan yang tak jelas apa maunya, selalu mama turutkan. 

Setiap waktu saat di rahimmu, aku selalu tidak nyaman ma. Dengarlah bisikan hatiku ma. Aku merasakan menderita saat dirimu tidak sungguh-sungguh menjagaku. Aku sering kehausan dan kelaparan. Mama seringkali enggan memberikan asupan gizi untukku. Apalagi mengkonsultasikan diriku pada dokter ? Yang ada, mama selalu merampas giziku demi otak dan emosi mama. Lebih-lebih saat mama selalu berseru tegang dengan papa, sampai-sampai papa lebih memilih pergi entah kemana tinggalkan aku.
Papa tersayang yang entah dimana keberadaannya, aku kecewa padamu. Mengapa engkau sembur aku di ladang yang tidak engkau inginkan ? Hari demi hari mama menyiksaku karena sikap dan ulahmu. Setiap kedekatanmu dengan mama hanya berbau emosi yang membuat aku tersiksa, lantas, nafsumu terus kembali bergolak. Bisakah dirimu membuat damaiku dan mama bersemayam dalam nuansa yang indah, seperti teman-temanku yang lain ?.
Papa dan mama yang tak jelas apa maunya.
Bunuhlah aku jika engkau tak inginkan aku terlahir normal. Atau, paksa aku keluar agar aku mati kehabisan cairan karena prematur, daripada aku harus terlahir cacat dan menderita seumur hidupku. Membawa penderitaan itu padaku atas hasil karyamu. Itukah buah cinta kasih kalian padaku ? mengapa ? apakah itu kesalahan aku ma ? pa ?
Awalnya, aku berharap dapat damai di tengah-tengah kalian. Menikmati hidup, melihat panorama dunia, seperti bisikan-bisikan yang bersemilir di taman syurga. Aku tergoda hendak lahir melalui tubuh kalian. Aku memohon pada tuhan agar aku segera lahir dan menghirup udara segar di permukaan bumi. Seperti cerita temanku yang telah kembali ke syurga, menikmati jerih payahnya di alam dunia. Katanya, jika kita telah menjalani perjalanan di dunia, kesempurnaan hidup di syurga lebih memberikan makna daripada tercipta sebagai malaikat. Malaikat itu hanya diciptakan untuk mematuhi apa perintah tuhan. Hanya itu-itu saja. Ia tidak pernah merasakan jatuh cinta, kebahagiaan, kesedihan, atau apapun demi arti hidup yang lebih bermakna.
Aku merasa nyaman ma, saat tangan papa membelai-belai kulitku. Walau tak tersentuh tetapi hangatnya kurasa sampai sanubariku yang paling dalam. Kecupan mesra di tali pusat mama, aku merasakan begitu lembut. Aku bahagia sekali ma, pa. Tapi, itu hanya sesaat dan jarang sekali aku rasakan. Walaupun telingaku belum utuh, aku lebih sering mendengar petir emosi dari mama dan papa saat bersitegang. Batinku terasa runtuh walaupun aku tak pernah tau apa itu maksudnya. Wanita lain, jarang pulang, mabuk-mabukan, atau apalah itu aku tak pernah tau dan mengerti. Jangankan seperti itu, sosok mama dan papa pun tak tau seperti apa rupanya. Tapi aku tak peduli dengan semua itu, yang pasti aku seperti di penjara, bukan di rahim mama.
Ma, .. Pa ..
Aku menyesal memilih kalian. Akupun tak luput protes pada tuhan. Mengapa aku dilahirkan melalui mereka untuk aku sebut pantas sebagai mama dan papa aku. Perangai mereka membuat aku menderita. Belum lahirpun, aku telah menderita. Tidakpun sedetik aku bahagia karena hari-hariku terbawa mama dengan samudera angkara yang diciptakan papa.
Aku menjadi jijik melihat kalian. Saat kalian bertengkar dan emosi lantas di akhiri dengan bercinta yang hanya meluapkan emosi. Sadarkah engkau bahwa luapan emosi itu menghidupkan aku ? Jika itu yang engkau mau, mengapa papa tidak emosi pada pelacur yang harus membunuh janin-janin yang akan hidup terlahir di dunia ? Jikapun aku boleh memilih, lebih baik aku diturunkan melalui seorang pelacur yang berhati lembut dibandingkan dinding rahim mama yang seperti penjara yang ada di neraka?.
Begitu juga padamu papa. Nafsumu melebihi binatang. Engkau rela permainkan rasa cinta mama yang dihembuskan di hatinya, demi mengeluarkan sperma dan terbang sesaat. Setiap kali dan berulang-ulang dirimu menyemburkan nafsu tanpa tanggung jawab yang tidak jelas. Engkau tega menyelingkuhi orang lain untuk kembali mengeluarkan setetes sperma yang tak berdosa. Apakah petualanganmu harus terus berulang, dan janin-janin lain tumbuh dan harus menanggung penderitaan seperti aku ?
Ya Tuhanku, ... aku ingin kembali padamu. Aku menyesal tidur dalam rahim ini untuk hidup di dunia. Jangan siksa aku karena aku tidak mematuhi petuahmu untuk menunda perjalananku di dunia. Aku mohon beribu kali mohon ... keluarkan aku agar darahku yang masih suci tertuang membasahi bumi. Aku tak ingin belajar hidup dengan kedua orang tua ku semacam mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar