Mama, hatiku pedih. Dalam usiaku empat
bulan dalam rahimmu, aku selalu gelisah. Rahimmu begitu panas dan selalu
bergolak. Terkadang tubuhku merasa tertekan dengan desahan nafas mama yang tak
berirama. Aku sesak dan sulit bernafas ma. Aku tahu mama labil mengandung
diriku. Gejolak emosi dan keinginan yang tak jelas apa maunya, selalu mama
turutkan.
Setiap waktu saat di rahimmu, aku selalu
tidak nyaman ma. Dengarlah bisikan hatiku ma. Aku merasakan menderita saat
dirimu tidak sungguh-sungguh menjagaku. Aku sering kehausan dan kelaparan. Mama
seringkali enggan memberikan asupan gizi untukku. Apalagi mengkonsultasikan
diriku pada dokter ? Yang ada, mama selalu merampas giziku demi otak dan emosi
mama. Lebih-lebih saat mama selalu berseru tegang dengan papa, sampai-sampai
papa lebih memilih pergi entah kemana tinggalkan aku.
Papa tersayang yang entah dimana
keberadaannya, aku kecewa padamu. Mengapa engkau sembur aku di ladang yang
tidak engkau inginkan ? Hari demi hari mama menyiksaku karena sikap dan ulahmu.
Setiap kedekatanmu dengan mama hanya berbau emosi yang membuat aku tersiksa,
lantas, nafsumu terus kembali bergolak. Bisakah dirimu membuat damaiku dan mama
bersemayam dalam nuansa yang indah, seperti teman-temanku yang lain ?.
Papa dan mama yang tak jelas apa maunya.
Bunuhlah aku jika engkau tak inginkan aku
terlahir normal. Atau, paksa aku keluar agar aku mati kehabisan cairan karena
prematur, daripada aku harus terlahir cacat dan menderita seumur hidupku.
Membawa penderitaan itu padaku atas hasil karyamu. Itukah buah cinta kasih
kalian padaku ? mengapa ? apakah itu kesalahan aku ma ? pa ?
Awalnya, aku berharap dapat damai di
tengah-tengah kalian. Menikmati hidup, melihat panorama dunia, seperti
bisikan-bisikan yang bersemilir di taman syurga. Aku tergoda hendak lahir
melalui tubuh kalian. Aku memohon pada tuhan agar aku segera lahir dan
menghirup udara segar di permukaan bumi. Seperti cerita temanku yang telah
kembali ke syurga, menikmati jerih payahnya di alam dunia. Katanya, jika kita
telah menjalani perjalanan di dunia, kesempurnaan hidup di syurga lebih
memberikan makna daripada tercipta sebagai malaikat. Malaikat itu hanya
diciptakan untuk mematuhi apa perintah tuhan. Hanya itu-itu saja. Ia tidak
pernah merasakan jatuh cinta, kebahagiaan, kesedihan, atau apapun demi arti
hidup yang lebih bermakna.
Aku merasa nyaman ma, saat tangan papa
membelai-belai kulitku. Walau tak tersentuh tetapi hangatnya kurasa sampai
sanubariku yang paling dalam. Kecupan mesra di tali pusat mama, aku merasakan
begitu lembut. Aku bahagia sekali ma, pa. Tapi, itu hanya sesaat dan jarang
sekali aku rasakan. Walaupun telingaku belum utuh, aku lebih sering mendengar
petir emosi dari mama dan papa saat bersitegang. Batinku terasa runtuh walaupun
aku tak pernah tau apa itu maksudnya. Wanita lain, jarang pulang,
mabuk-mabukan, atau apalah itu aku tak pernah tau dan mengerti. Jangankan
seperti itu, sosok mama dan papa pun tak tau seperti apa rupanya. Tapi aku tak
peduli dengan semua itu, yang pasti aku seperti di penjara, bukan di rahim mama.
Ma, .. Pa ..
Aku menyesal memilih kalian. Akupun tak
luput protes pada tuhan. Mengapa aku dilahirkan melalui mereka untuk aku sebut
pantas sebagai mama dan papa aku. Perangai mereka membuat aku menderita. Belum
lahirpun, aku telah menderita. Tidakpun sedetik aku bahagia karena hari-hariku
terbawa mama dengan samudera angkara yang diciptakan papa.
Aku menjadi jijik melihat kalian. Saat
kalian bertengkar dan emosi lantas di akhiri dengan bercinta yang hanya
meluapkan emosi. Sadarkah engkau bahwa luapan emosi itu menghidupkan aku ? Jika
itu yang engkau mau, mengapa papa tidak emosi pada pelacur yang harus membunuh
janin-janin yang akan hidup terlahir di dunia ? Jikapun aku boleh memilih,
lebih baik aku diturunkan melalui seorang pelacur yang berhati lembut
dibandingkan dinding rahim mama yang seperti penjara yang ada di neraka?.
Begitu juga padamu papa. Nafsumu melebihi
binatang. Engkau rela permainkan rasa cinta mama yang dihembuskan di hatinya,
demi mengeluarkan sperma dan terbang sesaat. Setiap kali dan berulang-ulang
dirimu menyemburkan nafsu tanpa tanggung jawab yang tidak jelas. Engkau tega
menyelingkuhi orang lain untuk kembali mengeluarkan setetes sperma yang tak
berdosa. Apakah petualanganmu harus terus berulang, dan janin-janin lain tumbuh
dan harus menanggung penderitaan seperti aku ?
Ya Tuhanku, ... aku ingin kembali padamu.
Aku menyesal tidur dalam rahim ini untuk hidup di dunia. Jangan siksa aku
karena aku tidak mematuhi petuahmu untuk menunda perjalananku di dunia. Aku
mohon beribu kali mohon ... keluarkan aku agar darahku yang masih suci tertuang
membasahi bumi. Aku tak ingin belajar hidup dengan kedua orang tua ku semacam
mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar